Bauksit asal Tayan, Kalimantan Barat yang digunakan dalam
penelitian ini, meliputi peningkatan kadar (upgrading) crude
bauxite, pemrosesan tailing-nya dan pembuatan alumina hidrat
serta pemanfaatan bauksit residu (red mud) untuk lumpur pengeboran.
Peningkatan kadar bauksit dilakukan dengan menggunakan rotary
drum scrubber (RDS), pemrosesan tailing menggunakan
hidrosiklon dan pemisah magnetik, pembuatan alumina hidrat menggunakan autoclave dan
reaktor hidrolisis, dan pemanfaatan red mud untuk lumpur
pengeboran menggunakan alat hidrosiklon dan pemisah magnetik. Peningkatan
kadar crude bauxite ini telah dilakukan dan menghasilkan
bauksit tercuci dengan kadar Al2O3 >55% dan kadar SiO2 reaktif <3%.
Pemanfaatan tailing hasil peningkatan
kadar crude bauxite sebagai berikut:
·
Tailing hasil peningkatan kadar crude bauxite dengan
menggunakan RDS terbagi menjadi dua yaitu aliran atas (overflow) yang
ukuran butirnya sebagian besar lolos 100 mesh dan aliran bawah (undersize)
yang memiliki ukuran butir pasiran (-2mm+100 mesh). Komposisi kimia pada overflow RDS
adalah 26.5% Al2O3, 10% SiO2 reaktif, dan 9% Fe2O3, sedangkan komposisi kimia
pada butiran pasiran (undersize RDS) adalah 35,4 % Al2O3, 14,99% SiO2 reaktif,
dan 20,5% Fe2O3.
·
Setelah overflow RDS diolah dengan menggunakan hidrosiklon dan
pemisah magnetik dihasilkan tiga macam produk yaitu overflow O/F
hidrosiklon, material magnetik, dan material bukan magnetik. Komposisi kimia
pada O/F hidrosiklon adalah: 36,75% Al2O3, 24,34% SiO2 reaktif, dan 12,10%
Fe2O3, pada material magnetik: 35% Al2O3, 8,57% SiO2 reaktif, dan 31,59% Fe2O3,
pada material bukan magnetik : 34,4% Al2O3, 16% SiO2 reaktif, dan 5,79% Fe2O3.
·
Sedangkan untuk pasiran (undersize), setelah diolah
dengan cara yang sama dihasilkan O/F hidrosiklon dengan komposisi kimia : 26.5%
Al2O3, 10% SiO2 reaktif, dan 9% Fe2O3, pada material magnetik: 33.28% Al2O3,
5.78% SiO2 reaktif, dan 32.27% Fe2O3, serta pada material non-magnetik: 19.45%
Al2O3, 8.6% SiO2 reaktif, dan 2.35% Fe2O3.
Dari data di atas terlihat bahwa kandungan alumina, besi, dan
silika reaktif dalam tailing RDS berukuran -100 mesh relatif lebih kecil
dibandingkan dengan yang terkandung dalam tailing berukuran pasiran. Hal ini
menunjukkan bahwa ukuran tailing yang lebih kasar memiliki
mutu yang lebih baik ditinjau dari kadar aluminanya, walaupun kandungan
pengotor (SiO2 reaktif dan Fe2O3) juga lebih tinggi. Ini nampaknya ada kaitan
yang erat dengan kondisi bijih bauksit secara umum yaitu semakin kasar
ukurannya, kandungan aluminanya cenderung lebih tinggi.
Dalam upaya pemanfaatan tailing hasil pencucian
bauksit dengan RDS, telah dicoba pula proses digesting menggunakan
bauksit tercuci (washed bauxite) dengan memvariasikan beberapa parameter
konsentrasi awal NaOH (200-360 g/L), waktu (1 jam, 2 jam, dan 3 jam), dan
ukuran partikel (-60 mesh, -100 mesh, dan -150 mesh). Dari hasil percobaan
didapat kondisi optimum sebagai berikut: ukuran butir -150 mesh, tekanan uap
4.2 - 4.6 atm, konsentrasi soda kostik (awal proses) 357g/L, waktu reaksi 2 jam
dengan persen ekstraksi Al2O3 sebesar 88% (kadar Al2O3 dalam red mud = 15.78%).
Sedangkan pada proses hidrolisis, variabel yang dikaji adalah dosis sulfat (25
- 52 kg), waktu (4 jam), dan suhu (60 - 90o C) dengan volume larutan sodium
aluminat 140-200 liter yang menghasilkan kondisi optimum sebagai berikut :
untuk volume larutan sodium aluminat 160 liter dibutuhkan asam sulfat 26,25 kg,
waktu 4 jam, dan suhu 60 - 70o C yang memberikan persen hidrolisis tertinggi
mendekati 100% atau rata-rata dari seluruh percobaan hidrolisis sebesar 80,24%.
Kualitas alumina hidrat yang diperoleh masih bervariasi kandungan aluminanya,
kadar alumina tertinggi dalam alumina hidrat adalah 88%.
Residu bauksit yang digunakan untuk pembuatan lumpur pengeboran
kualitasnya kurang baik. Hal ini terlihat dari komposisi mineralnya yang tidak
mengandung mineral monmorilonit, kecuali kandungan alumina, dan besinya yang
masih relatif tinggi. Mineral yang terkandung dalam bentonit bahan baku milik
PT. Baroid Indonesia adalah kuarsa, kaolinit, dan danilit. Bentonit yang sudah
diolah menjadi campuran dalam pembuatan lumpur pengeboran yang dijual di pasar
mengandung mineral monmorilonit, albit, dan kuarsa.
Dari hasil perhitungan neraca massa dan panas, rancangan sel
elektrolitik (pot) kapasitas 50 kg logam aluminium/hari memiliki spesifikasi
sebagai berikut: panjang pot 155 cm, lebar pot 100 cm. Sedangkan ukuran anoda 7
cm x 7 cm sebanyak 12 buah dan ukuran katoda 7,5 cm x 7,5 cm sebanyak 12 buah.
Arus yang digunakan sebesar 5-9 kA dengan voltase 5 volt.
ada yg jual material zircon khusus yg dari Bangka...
BalasHapussy berminat membeli.
kalau ada Hub. WA sy; Ardi -
082244445711
ada yg jual material zircon khusus yg dari Bangka...
BalasHapussy berminat membeli.
kalau ada Hub. WA sy; Ardi -
082244445711